Dimanakah malam berasal? Malam terbuat dari lilin lebah atau bee wax yang dihasilkan dari sarang lebah. Biasanya malam dijual dalam bentuk bongkahan. Pembatik biasanya mengolah bongkahan malam dengan dipanaskan hingga mencair di dalam sebuah wajan yang diletakan di atas kompor kecil khusus untuk membatik. Malampun siap dijumput serta ditorehkan pada selembar kain.
Buang anggapan bahwa malam adalah untuk mewarnai batik, sebab malam sebenarnya berfungsi untuk menutupi gambar yang dipolakan sebagai motif dalam membatik – tujuannya supaya tidak terkena warna. Fungsi lain, malam bisa mempertahankan warna agar tidak terkena warna lain pada saat proses pemberian warna lanjutan dalam membatik.
Esensinya, menciptakan sehelai kain batik sama dengan menutup dan membuka malam pada kain yang selanjutnya dilakukan adalah proses pewarnaan yang akan menghasilkan sebuah rancangan motif warna tertentu pada kain batik. Saat melukis memakai malam pada kain batik kemudian melalui proses pewarnaan, lalu kain direbus dalam air panas sehingga malam terlepas. Karena malam mengandung lemak hewani yang berasal dari lebah, saat air rebusan dingin maka malam akan mengapung.
Sisa-sisa malam yang mengapung kemudian dikumpulkan dan dicampur dengan parafin dan gondorukem atau getah pohon pinus ditambah bahan-bahan lain. Setelah dicampur, kemudian campuran ini direbus selama 5 hingga 7 jam. Setelah itu, campuran yang masih panas dimasukkan ke dalam cetakan untuk didinginkan dan akan menjadi malam baru untuk membatik.
Itulah malam untuk membatik, yang eksistensinya ‘diwarnai’ dengan hadirnya batik print atau batik cap yang yang didukung teknologi moderen. Hal ini tentu saja tentu akan mengurangi penggunaan malam.
Esensinya, menciptakan sehelai kain batik sama dengan menutup dan membuka malam pada kain yang selanjutnya dilakukan adalah proses pewarnaan yang akan menghasilkan sebuah rancangan motif warna tertentu pada kain batik. Saat melukis memakai malam pada kain batik kemudian melalui proses pewarnaan, lalu kain direbus dalam air panas sehingga malam terlepas. Karena malam mengandung lemak hewani yang berasal dari lebah, saat air rebusan dingin maka malam akan mengapung.
Sisa-sisa malam yang mengapung kemudian dikumpulkan dan dicampur dengan parafin dan gondorukem atau getah pohon pinus ditambah bahan-bahan lain. Setelah dicampur, kemudian campuran ini direbus selama 5 hingga 7 jam. Setelah itu, campuran yang masih panas dimasukkan ke dalam cetakan untuk didinginkan dan akan menjadi malam baru untuk membatik.
Itulah malam untuk membatik, yang eksistensinya ‘diwarnai’ dengan hadirnya batik print atau batik cap yang yang didukung teknologi moderen. Hal ini tentu saja tentu akan mengurangi penggunaan malam.
