Saya pernah mengulas tips mendongeng, beberapa waktu yang lalu... Tapi rasanya kurang puas bila saya tidak melakukan tips tersebut. Walhasil, esok harinya - saya memenuhi tantangan seorang teman untuk mendongeng di depan kamera dan beberapa anak-anak. Yups, saya syuting untuk sebuah televisi lokal, garuda TV :))
Hari untuk mendongeng pun tiba, saya dan teman berangkat menuju lokasi syuting. Lihat properti yang tergolong sederhana saja bikin hati saya ketar-ketir... Waduh ini yang disebut dengan kamera 1, kamera2, ada lighting, box neon, kameramen, asisten sutradara. Oia, saya langsung diarahkan astrada, tentang a to z yang harus dilakukan.
" ... Nah coba sekarang latihan, kang..." kata astrada setelah mengarahkan poin-poin penting untuk melakukan syuting. Busyet dah! Saya pun mencoba melatih diri, berdiri di depan kamera dan beberapa kursi kosong.
"Ya Tuhan, akhirnya mendapatkan pengalaman bersandiwara depan kamera..." batin saya langsung berucap.
Setelah beberapa kali latihan, akhirnya waktu sebenarnya tiba. Anak-anak pendukung acara satu-satu muali berdatangan, mereka sekitar 10 orang yang semuanya seumuran si Salma, kelas 4 SD. Nanti, saya mesti mengatur waktu selama 10 menit saat kamera rolling.
"Bisa nggak ya...?" Perasaan ini masih saja hadir padahal saya sedang menunggu dipanggil host yang harus tampil terlebih dahulu mengajak anak-anak mengaji.
Setelah host memberitahukan bahwa akan ada dongeng tentang cerita yang berkaitan dengan ayat yang sudah dibaca baru saja. Kak Diki, host langsung memanggil sang pendongengnya, kak Setia. Nama Setia diambil dengan alasan agar tidak terjadi kerancuan, sebab nama saya Ade Setiadi Truna. Jadi kalau nama pendongengnya, Kak Ade - lucu, kakak tapi ade(k). Sehingga sebelum dimulai syuting, berembug sebentar lalu disepakati nama pendongeng yang diambil adalah Kak Setia(di).
Ada beberapa hal penting yang bisa dijadikan sebuah Tips Saat Syuting Menjadi Pendongeng.
Pertama, pendongeng harus lantang, namun tidak mengganggu pendengarnya (audiens),
Kedua, saat bercerita harus mengeluarkan suara dengan artikulasi yang jelas. Pembaca bisa bayangkan saat Ariel atau Eddie Vedder bernyanyi? Nah, jangan sampai seperti mereka, kalau bercerita seperti suara mereka sangat tidak disarankan :P
Ketiga, gestur tubuh bisa mewakili isi dongeng, paling tidak tokoh-tokoh di dalamnya bisa dibedakan dan difahami oleh pemirsa di rumah dan audiens di studio.
Keempat, bicara tentang audiens dan pemirsa, seorang pendongeng begitu juga presenter bisa membagi kontak mata. Pembagian kontak mata harus merata antara audiens di studio dengan pemirsa di rumah. Jangan terlalu cepat berpaling saat menyapa pemirsa di rumah, dengan begitu pemirsa akan merasa dilibatkan. Begitu juga dengan pemirsa di studio, jangan terlalu asyik dengan satu titik fokus saja, namun harus dibagi ke seluruh audiens yang ada saat itu. Baik kiri-kanan dan depan juga belakang.
Itu saja beberapa tips yang bisa saya share ... Saat itu, saya diberitahu mana kamera untuk menyapa pemirsa di rumah. Ah, ini hanya sekadar Tips Saat Syuting Menjadi Pendongeng dari seorang nubie, maafin deh yaaa :D | foto

